Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Agustus 2017

Cerita Seminggu #1 - Cuti

Saya emang lagi banyak waktu hehehehe, makanya jadi kangen nulis sambil sekalian blog walking yang udahhhhhhhh luamaaaaaa banget gak dilakuin. Sebenarnya kalau dipikir-pikir sekarang untuk nulis itu bukan gak ada waktu, tapi manajemen waktunya yg masih berantakana. Mudah-mudahan kedepan cita-cita saya untuk tetap bisa update blog minimal sebulan 2x bisa kesampean, amiiiiiiinnnnnnn.

Rabu, 02 Agustus 2017

Kyomizu-Dera

Lagi-lagi kuil, yup kalo berkunjungnya ke Kyoto jangan bosan-bosan sama kuil hehehehe.
Tapi buat saya, Kyoto gak ada bosennya, mungkin karena pernah jadi ibukota Jepang tempo dulu atau karena suasananya yang bikin otak saya langsung nyambung ke Malaka dan Jogja. Kotanya, suasananya dan orang-orangnya menurut saya serba vintage hehehehe.
Lokasinya disebelah timur kyoto dan untuk mencapai sana dari halte tempat kami berhenti harus berjalan kaki yg lumayan jauh. Mending kalo jalan jauh lurus-lurus aja, ini harus menanjak karena letaknya diatas bukit, fiuhhhhhhhh.

 Jalannya menanjak dan lumayan bikin ngos-ngosan apalagi ditambah cuaca yg dingin brrrrr

Begitu masuk kompleks kuil entah kenapa tetiba saya ingat sama kuil pagoda yg ada di tengah-tengah pulau kemaro di Palembang hehehehe. Sama-sama tinggi menjulang, cuma beda warna, kalo di Kyomizu-dera ini warnanya orange genjreng nah di Pulau Kemaro warna warni dengan dominasi warna merah.
Di kuil ini juga saya nemu sakura yg udah mulai banyak dan berwarna pink cerah, asli emang itu bunga cantikkkkkk banget.
View dari atas bukit kuil, caem bener dah

Jangan bosan ketemu tempat yg beginian, karena disetiap sudut tempat wisata yg dikunjungi selalu ada hehehe.
Balik dari Kyomizu-Dera ini kita nemu penjual strawberry yg gede-gede banget dan manisssssss banget.
Lagi-lagi karena asyik jajan gak sempet difoto karena udah keburu habis hehehehe.


Photos taken by me and hubby with my canny
Kyomizu-Dera April 2016 

Fushimi Inari - Kuilnya Dewi Kemakmuran Orang Jepang

Semenjak merit jadi pemales banget buat buka latop dan nyoret2 diblog hehehehhe,
ditambah laptop yg rusak huhuhuhu jadi makin males. Udah setahun lewat trip ke Jepang ini,
tapi setoran tulisannya masih seujung kuku.

Okey lanjut, kalo berkunjung ke Kyoto belum ke Kuil ini rasanya kurang pas, pertama karena letak kuil ini
paling gampang ditemuin, gak jauh dari stasiun utama Kyoto, naik kereta gak sampe 10 menit. Lalu yg kedua
masuk kuil ini gratis alias gretong hehehe, dan yg ketiga tempatnya asri banget.

Begitu masuk bisa nyobain basuh tangan atau muka di air yg dianggap baik oleh masyarakat, karena kami datang dipenghujug musim dingin dan awal musim semi jangan tanya airnya dinginnya kayak apa.
Kuil ini terkenal dengan lorong-lorong gapuranya yang oleh masyarakat sekitar disebut torii, konon
gerbang-gerbang ini adalah hasil sumbangan dari berbagai perusahaan yang berharap dengan menyumbang
akan mendapatkan keuntungaan makin banyak. Katanya lagi semakin besar torii-nya maka akan semakin
besar juga rezekinya.


Just info yah, Inari dalam bahasa indonesia artinya Rubah, nah bagi masyarakat Jepang Dewi Inari ini
melambangkan kemakmuran, ehmmm kalo di Indonesia kayak Dewi Sri gitu kali yah (kepercayaan masyarakat dulu).
Sama kayak kuil-kuil lain di Jepang, didalam kompleks kuil juga banyak tempat berdoa dan menuliskan
permohonan.


Begitu keluar dari kompleks kuil udah banyak banget deretan abang-abang jual jajanan, sayang saking fokus sama jajanannya lup ke foto huhuhu. Disini saya juga nemu takoyaki yang enakkkkk banget, udah bentuknya gede, guritanya gede dan yg jual juga cuakep habis hihihihi, persis kayak tokoh anime dengan rambut di cat putih perak. Gila kalo diindonesia udah jadi artis kayaknya hehehehe.
Sekian tentang Fushimi Inari.
Rubah dimana-mana


Photos taken by me with my canny
Kyoto - April 2016

Minggu, 25 Januari 2015

PESONA - Sebuah cerita

PESONA - Sebuah cerita by Daysee
Inspired by Wacoal Campaign Video 


                Rubi terpekur duduk di ruang tamu sambil memandangi paket yang sudah terbuka dihadapannya. Dilihatnya sekali lagi kertas pembungkus yang sudah dirobeknya dan langsung menyadari kebodohannya.
                “Kenapa ma??” Diaz menegurnya sambil mendekatinya.
                “Aduh Yaz mama bodoh banget nih, gimana nih celaka deh,” Rubi merutuk sendiri dengan nada hampir menangis.
                “Aduh ma emang kenapa?? Paketnya kenapa??? Barangnya salah???” Diaz jadi memilih duduk disebelah mamanya. Tanganya ikutan memegang kertas dan kotak paket.
                “He eh. Paketnya salah,” Rubi mengangguk pelan.
                “Ya udah telepon aja tempat mama beli kemaren trus barangnya balikin.”
                “Barangnya salah dan alamatnya juga salah Yaz.”
                “Hah!!” Diaz setengah terkejut. “Maksudnya alamatnya salah gimana ma???”.
                “Kamu baca deh alamatnya. Ini paket bukan ditujukan buat mama. Kurirnya salah kirim dan mama udah terlanjur ngebuka paketnya. Gimana dong Yaz???” Rubi menatap anaknya dengan tatapan mau menangis.
                Diaz menghela nafas pelan. Dia sudah hapal dengan sifat mamanya ini. “Ehmm ada alamatnya gak ma di kertas pembungkusnya???” tanya Diaz sambil mengambil kertas-kertas yang sudah robek-robek di atas meja.
                “Hmmm harusnya ada. Mana ya!”. “Nih nih Yaz ada alamatnya,” Rubi mengacungkan kertas yang sudah robek jadi beberapa bagian itu kepada anaknya.
                Diaz meraihnya dan berusaha menyambungnya. “Bisa dicari ma alamatnya. Atas nama Rully Aditya. Kalo saran Diaz daripada mama balikin ke ekspedisinya udah hancur begini mending mama balikin ke alamatnya aja sekalian minta maaf.”
                “Mana coba mama lihat dulu.” Rubi membaca alamat pemilik paket ini dengan seksama sekalian mengingat-ingat jalan menuju alamat yang tertulis. “Hmm besok deh mama coba cari alamatnya.”
                “Ya udah mama beresin gih sampah-sampahnya.” Diaz beranjak masuk ke dalam.
                “Kamu mau kemana Yaz??? Udah ngerjain Prnya??” Rubi setengah berteriak begitu melihat Diaz hilang dibalik pintu.
                “Lagi proses ngerjain ma!!” Diaz tak kalah berteriak.
                “Kamu mau makan apa nak??? Mama mau masak,” Rubi mengintip dari balik pintu kamar anaknya.
                “Bakso aja ma mendung nih hehehe,” Diaz nyengir.
                “Oke deh bos. Kamu gak basket hari ini??”.
                “Kalo gak hujan pergi ma.”.
                Rubi menutup pintu sambil menenteng kertas-kertas pembungkus paket ke dapur.
*

Sabtu, 04 Oktober 2014

Cerpen - Siluet yang menginspirasi





Siluet yang Menginspirasi


Dijodohin!!! Ezar tak pernah membayangkan itu bakal terjadi padanya. 
Dia tampan?? Iyah
Memiliki pekerjaan pasti?? Tentu
Ditaksir banyak orang??? Gak perlu diragukan
Lalu, kenapa ibunya, sang mama, tiba-tiba ingin memperkenalkan ia kepada seorang gadis, anak teman ibunya.
Apa karena ia belum juga mau menikah di usia menjelang 30???
Atau karena semenjak hubungannya yang terakhir kandas sudah nyaris setahun lebih ia belum juga memperkenalkan siapa pacar barunya sekarang????
Ezar benar-benar merasa konyol dan tak habis pikir.
Ditengah keruwetan menghadapi klien dan tawaran ibunya, jalan apa yang sebaiknya ia pilih sebagai seorang lelaki dewasa???

Sabtu, 13 September 2014

"Tentang Kita" -- Sebuah cerpen

"Tentang Kita"


Zaky Andriawan è 28 tahun. Pilot muda sebuah maskapai penerbangan. Seorang suami. Tenang. Pekerja keras. Suka fisika. Suka basket. Punya satu saudara lelaki. Tinggi 175 cm. Berat 62kg. Tidak merokok. Memiliki ego sama seperti lelaki umumnya.

Annanita Inezia è 28 tahun. PR di sebuah bank. Seorang isteri. Humoris. Mudah cemas. Penyuka model rambut bobnya Nicole Richie dan masih setia dengan model jadul itu. Suka seni dan warna. Punya satu saudara lelaki. Tante dari seorang anak laki-laki lucu berusia tiga tahun. Tinggi 163 cm dan berat 50 kg. Berperasaan halus sama seperti wanita umumnya.

Rabu, 12 Juni 2013

Ruang Pertemuan


By dsi - Fiction

Ruang Pertemuan
                Jumat pagi, matahari belum sepenuhnya naik dan aku sudah berdiri dengan manis di luar pagar kosan, menanti taksi pesanan yang akan membawaku ke bandara. Kulirik jam tangan dipergelangan tangan kiriku, masih sepuluh menit lagi dari waktu janjian pukul setengah tujuh.
                Aku memasuki pintu pemeriksaan dengan santai. Pertama jam keberangkatanku masih lumayan lama, kedua barang bawaanku sangatlah tidak banyak, hanya sebuah ransel dan tas berisi kamera, ketiga aku memang sedang tidak ada agenda khusus dengan keberangkatanku ini selain hanya sosialisasi biasa dari kantor pusat di Jakarta dan itupun untuk besok.
                Sebenarnya aku memilih jadwal penerbangan siang, namun seorang rekan kantor yang biasa mengurusi jadwal keberangkatan karyawan memberi info bahwa untuk penerbangan dengan maskapai kelas wahid di Indonesia dari jadwal pukul sembilan sampai enam sore menuju Jakarta dari Palembang yang tersisa hanyalah untuk kelas bisnis. Dan yeah, kalau sudah begitu mau apa dikata selain memilih jadwal penerbangan yang tersisa.
                Setelah check in aku memilih langsung masuk ruang tunggu, sebuah gerai kopi internasional menarik perhatianku. Tanpa pikir panjang aku memasuki counter dan memesan kopi racikan yang selalu sama yang biasa aku minum jika sedang ngopi di kedai kopi ini. Setelah menerima minuman sesuai pesanan aku melenggang keluar, mengedarkan pandangan di sekitar ruang tunggu yang masih sepi sambil memutuskan dimana hendak duduk.
                Aku baru mendekati sebuah tempat duduk di dekat saluran tv yang masih kosong di salah satu ujungnya ketika mataku menatap sesosok siluet yang tidak asing bagiku. Sosok itu sedang asyik memainkan tablet di salah satu sudut kursi yang hendak aku duduki.
                “Pak Panji!” seruku pelan. Agak takut juga jika ternyata salah orang.
                Orang yang kupanggil itu menoleh, menatapku sebentar sebelum kemudian menyunggingkan senyum ramah yang selalu kulihat jika aku sedang berkonsultasi dengannya, namun kali ini dengan mimik agak terkejut. Akh jangankan kamu aku pun terkejut bisa bertemu di ruang tunggu bandara ini.
                “Loh mbak Ara.” Lelaki itu bangkit dan mengulurkan tangan dengan sopan.
                “Apa kabar pak?” sapaku sambil menjabat tangannya. “Liburan akhir pekan atau tugas kantor?” tebakku mencairkan suasana. Alih-alih duduk diujung kursi yang tadi hendak kududuki, akhirnya aku duduk didekatnya berjarak satu kursi dari dirinya.
                “Ada rapat kecil siang ini di Jakarta mewakili pimpinan langsung yang berhalangan datang, tapi yah sekalian pulang ke rumah juga,” jawabnya disertai tawa kecil. Mau tak mau aku ikut tertawa. “Mbak sendiri??”
                Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya. Sudah pernah kukatakan untuk cukup memanggilku dengan nama, tapi yah karena lelaki ini selalu kembali memanggilku dengan embel-embel ‘mbak’ jadi aku tidak akan pernah meralatnya lagi. Toh aku juga tidak bisa tidak memanggilnya dengan sebutan bapak. Jadi impaslah. “Ada sosialisasi pak, tapi itu besok,” jawabku.

Jumat, 24 Agustus 2012

Pernyataan (Flash Fiction)


"Tak apa kalau memang aku tak harus mendengar ungkapan cinta dari mu atau ungkapan sayang.
Andai kau memintaku untuk bersamamu, menemani hari-harimu dan mendukungmu, bagiku itu adalah ajakan yang melebihi segala ungkapan cinta.
Karena permintaanmu menyiratkan kerelaanmu untuk bersedia berbagi segala rasa bersamaku.
Dan itu adalah hal teristimewa untuk orang sepertiku.
Dan atas semua itu aku relakan hidupku untukmu. Menjadikanmu penjagaan untukku...." Bisik Hati Ann

Selasa, 31 Juli 2012

Pada sebuah tawa


Dia datang tanpa pernah kita sadari
Tiba-tiba merayapi hati, menerbitkan senyum, dan menumbuhkan tunas rasa
Menghinggapi mimpi dan menghiasnya dengan sejuta rajutan benang yang indah
Tapi terkadang aku bukan menemukan bunga melainkan luka akhirnya
Kenapa terkadang waktu dan jalan nasib tak pernah sama
Kenapa harus mengenalmu ketika kecewa yang harus aku terima akhirnya
Kenapa harus bertemu dipersimpangan ketika ternyata jalan kita berbeda
Mengenalmu adalah merasakan semua
Rasa kagum, terpesona, lantas memepertanyakan begini kah rasa indahnya ketika kita menyukai seseorang
Namun akhirnya juga merasakan pedih dan kecewa ketika semuanya harus berakhir
Berakhir bahkan sebelum aku sempat mengisi lembar pertama perkenalan
Mengenal tawamu aku belajar arti kagum
Untuk sisa masa yang sangat amat singkat ini aku hanya berharap bisa melihat tawa itu
Merekamnya untuk ku simpan disudut tergelap dari ruang hati yang kumiliki
Agar kelak ketika aku merasa hendak jatuh dan kecewa ada satu tawa yang pernah membuatku tersenyum dan hanyut untuk ikut tersenyum
Kelak jika Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu atau berpapasan kembali, aku harus bisa berdiri lebih tegak dihadapanmu
Dan pada akhirnya tersenyumlah ^^

Sabtu, 31 Maret 2012

Finding Your Heart (Melepasmu...)


Ditra menghentikan Jeep Taft GT hitamnya di depan Alyn dan melompat keluar. Alyn berjalan memutar dan terus berjalan. Dikejarnya pelan Alyn lantas dicengkramnya tangan kanan Alyn yang bebas.
Gadis itu tersentak dan tubuhnya langsung menghadap Ditra yang menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Ada keterkejutan, bingung, juga penasaran.
"Apa itu benar???" tanyanya lirih yang makin membuat Alyn tak sanggup menahan bendungan air matanya. Yang dimaksud Ditra adalah apakah benar dia sengaja datang untuk mencari tahu tentang Arya dan melihat kejatuhan Ditra. Karena itu adalah kata-kata Rhea yang ditangkapnya.
Ditatapnya sepasang mata tajam itu tepat di manik mata. Dan Alyn berusaha mati-matian menahan agar air matanya tidak jatuh. 
Yang dimengerti Alyn tentang pertanyaan Ditra adalah bahwa yah dia memang mengenal Arya, mengenalnya sangat akrab dan begitu kehilangan ketika pria itu pergi. 
"Ya memang benar," ucapnya tegas. Ditatapnya kembali sepasang mata dihadapannya. Ada keterkejutan yang tak bisa ditutupi sekaligus ketakutan yang bergumul menjadi satu.
Alyn melepaskan cengkraman Ditra dan berbalik pergi.
"Jangan menoleh sekalipun, karena kalo lo berbalik gue mungkin gak akan bisa mengendalikan diri," ucap Ditra dingin. Kedua tangannya mengepal keras.
Dan Alyn memang tidak berbalik, terus berjalan menuju jalan besar. Bukan, bukan karena dia takut Ditra akan marah besar karena bukankah semua ini memang dirinya yang memulai. Alyn hanya tidak mau memperlihatkan air matanya. Tidak ingin semakin dianggap hina oleh Ditra. Yah hanya oleh Ditra.
Dan akhirnya selesai sudah, batin Alyn pedih, miris.
Ditra masih berdiri di tepi jalan dengan hati yang kacau dan siap meledak.
Yang dia takutkan jika gadis itu menoleh dia tidak sanggup menahan amarahnya yang menggelegak, yang sudah sampai diujung tenggorokan. Begitu melihat Alyn menghilang ditikungan jalan, ada rasa sesal dihatinya. Akhirnya dia merosot, luruh terduduk dijalanan aspal bersandar pada mobilnya dan menunduk kosong.
Suara mobil yang dihapalnya berhenti dibelakang mobilnya. Pintu dibanting bersamaan dan kemudian Raditya dan Ibas sudah berada didepannya.
Radit masih berdiri memeriksa jalanan, Ibas langsung berjongkok didepannya dengan sebelah lututnya menempel di aspal. Tak lama Raditya ikut berjongkok.
"Dit, lo gak apa-apa kan?" tanya Ibas khawatir sambil menyentuh bahu cowok itu.
Diangkatnya kepala dan dipandanginya dua sobatnya itu bergantian. Mata itu memerah menahan berbagai macam gempuran emosi walaupun sudah sedikit lebih tenang.
Kepala itu menggeleng pelan lantas tertawa miris.
"Kenapa?? Kenapa harus dia, Hmm?? Kenapa bukan orang lain agar gue bisa menghajarnya dan punya alasan buat marah!!!"
"Dan kenapa dia ngaku??? kenapa dia gak bohong saja??? gue terima semua kebohongannya. Gue akan terima!!!! bukankah selama ini dia sudah bohongin gue???" teriak Ditra pedih.
Ibas dan Raditya hanya bisa saling pandang.
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini Alyn memiliki kaitan dengan Arya. Sungguh tidak pernah menyangka.
Sebenarnya mereka berdua juga terkejut, kaget, dan marah. Namun Ditra memiliki alasan tersendiri kenapa dia sampai begitu hancur.
Ibas mengangguk pelan pada Raditya yang segera diketahui maksudnya. Dipapahnya Ditra supaya berdiri. Mereka sedang tidak bisa memberi kalimat apapun. Untuk hari ini biarkan Ditra melepaskan semua bebannya.
"Biar gue yang bawa dia, lo bawa mobilnya aja," ucap Ibas.
Raditya mengangguk.
"Kita kerumah gue aja, lagi gak ada orang," kata Ibas sebelum masuk ke mobil.
"Jadi lo bener-bener cinta ya sama dia?" tanya Ibas sebelum memutar kunci mobil.
Ditra menoleh dan menatapnya kosong lantas beralih kembali menatap jalanan di depan.
.................

Rabu, 14 Maret 2012

Momen Pertemuan

"Momen Pertemuan"


Lima belas tahun Amanda Raisa memendam perasaan suka dan cintanya pada Kafka, teman semasa sekolahnya dari zaman sekolah dasar hingga menengah umum. Tak ada yang tahu rahasia hatinya selama belasan tahun, ini rahasia diri Am sendiri dengan Sang Kuasa yang telah memberinya rasa ini.
Sepenggal rasa yang terkadang membuat Am dipenuhi oleh mimpi-mimpi dan harapan. Namun pada saat yang bersamaan rasa itu membuatnya mencelos kecewa dan larut dalam kubangan perasaan terluka bernama patah hati. Yah, berkali-kali hati Am patah, namun itu tidak menyurutkan rasa yang ada didalam diri Am terhadap Kafka. Ketika kali pertama menangis kecewa karena Kafka memiliki teman istimewa, Am berpikir mungkin karena mereka sejak dulu berteman, perasaan kecewa yang dirasakan Am hanyalah perasaan kecewa biasa karena kehilangan teman duduk. Tapi kali berikutnya, sadarlah ia bahwa rasa yang dimilikinya bukanlah perasaan kehilangan seorang teman, melainkan kehilangan perhatian seorang laki-laki.
Am senantiasa mengatakan pada dirinya, bahwa perasaan sukanya pada Kafka akan terkubur seiring dengan berjalannya waktu apalagi dengan kencan-kencan yang dilakukan Am. Namun, setelah sepuluh tahun perasaan itu masih terus ada Am memutuskan sendiri cara untuk melupakan Kafka. Dia ingin melupakan dan bersikap realisitis karena mungkin Kafka memang tidak akan pernah menaruh minat padanya. Tapi percuma berharap melupakan jika harapan untuk bersama masih terus ada. Dengan penuh keberanian dan mengesampingkan semua ego dan rasa malu, Am memberanikan diri berbicara langsung pada Kafka. Dengan semua harga diri dan kejujuran yang dimilikinya, Am mengatakan yang sebenarnya. Ada ketakutan dan keraguan yang sangat menyiksa ketika melihat Kafka tertegun diam menatapnya. Namun kemudian laki-laki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sambil berkata biarlah jodoh yang mengatur semuanya. Mereka berpisah dan Am berjanji dalam hati dan untuk keseluruhan hidupnya ia tak akan mencari-cari atau berusaha untuk menemui Kafka, biarlah takdir yang mempertemukan mereka. Jika ikatan bernama jodoh itu memang benar adanya mereka pasti akan dipertemukan.

Senin, 27 Februari 2012

Protes Iyla Buat Mama

Protes Iyla buat Mama

Iyla, gadis kecil kelas tiga SD itu terduduk meringkuk disamping tempat tidurnya sambil memeluk kedua lututnya. Mukanya cemberut, tertekuk seperti pakaian kusut belum disetrika.
            Dia habis kena marah mama lagi. Hari ini bu Tya, wali kelasnya melapor pada mama kalau Iyla kena hukuman akibat tidak mengerjakan PR Matematika dan mendapat nilai merah waktu ulangan bahasa inggris dua hari yang lalu.
            Mama marah besar karena merasa dibohongi padahal kemarin-kemarin Iyla mengaku tidak ada ulangan dan PR.
            “Kamu mau jadi apa? Kecil-kecil sudah bohongin mama? Mama gak pernah ngajarin kamu buat males belajar apalagi belajar bohong!!!!” omelan mama tadi terngiang-ngiang ditelinga Iyla. “ Masuk kekamar dan gak ada tivi malam ini,” putus mama. Jadilah dia sekarang meringkuk dikamar, misuh-misuh didalam hati sambil manyun.
Hari ini pembagian rapor semester, Iyla deg-degan setengah mati, gadis cilik yang lincah itu cemas, takut kalau nanti gagal masuk lima besar mama sama ayah tentunya akan membatalkan liburannya ke tempat Oma Opa di Palembang sebagai hukuman. Padahal dia berharap sekali liburan itu jadi.
            Ini pertama kalinya dia liburan tanpa orang tuanya, dia juga kangen sama oma opa, tante dan omnya. Lagian Iyla sudah sebel dimarahi mama terus, mama gak sayang Iyla lagi, mama lebih memilih kerjaannya daripada Iyla, pikirnya.

Sabtu, 25 Februari 2012

Sebuah Rasa Yg Tertinggal

Sebuah Rasa Yang Tertinggal

“ Ra, ku kenalin ya sama temanku?” Icha tersenyum ceria penuh arti, bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Lagi-lagi aku tertawa lalu menggeleng dan bilang “ Nanti ya Cha, aku masih belum siap” dengan tampang nyengir. Icha cemberut, bibirnya manyun,” Kenapa sih Ra?” tanyanya jengkel, menarik kursi didepanku dan duduk dengan dagu menempel di meja ku, menatapku dengan penasaran dan jengkel.
Aku menahan senyum melihatnya. “ Gak ada, belum siap aja,” jawabku seperti biasa.
“ Kalo gitu ya gak ada masalah kan?” Kan gak harus jadian, yang penting sudah ketemu. Itung-itung nambah temen,” cerocosnya bersemangat.
“ Iya. Tapi gak perlu pake kenal-kenalan kan? Nanti juga kenal sendiri,” elakku.
“ Huuuuh,” Icha nyembur lalu bangkit, beranjak keluar kelas yang sudah kosong melompong ditinggal kabur penghuninya ke kantin atau kemana. “ Eh,” serunya sambil balik badan. “ Tapi kamu jadi kan nemenin aku sore ini?”
“ Sip,” aku tersenyum sambil mengacungkan ibu jari.
Aku menoleh kearah kanan, melepaskan pandangan dari novel yang sedang ku baca, memandangi langit siang hari yang biru bersih lewat jendela kaca kelas yang besar sambil bertumpu pada tangan kiriku. “ Maaf ya Cha,” aku mulai bergumam seperti kebiasaanku.  “ Aku bukannya gak mau, aku mau dan penasaran, tapi jujur aku gak pede. Aku takut Cha,” gumamku sambil menghembuskan nafas dan menelungkupkan wajah.
Sekarang lagi masanya classmeeting sampai satu minggu kedepan, semua anak gak ada yang betah duduk dalam kelas pada kabur kemana-mana, kantin, nonton pertandingan yang diselenggarakan osis, ngetem di perpustakaan, ngegosip iseng di ruang kesenian, atau malah ada yang rajin pake berkebun segala. Berhubung aku lagi diserang rasa malas, jadi aku memilih betah di kelas dengan novel-novel yang baru kemarin sore aku pinjam dari taman bacaan kota.
Aku menguap pelan mungkin karena semalam balas dendam sehabis ujian semester dengan ngedem di depan komputer sekarang yang notabene baru jam sebelas siang mataku sudah berat. Sambil berandai-andai dengan tawaran Icha, tanpa sadar aku tertidur di meja dengan posisi menelungkup. Semenit, dua menit, Aku masih merem melek dibuai angin dari jendela kelas yang sengaja aku buka lebar-lebar, entah menit ke berapa aku tertidur dengan pulas.

Sabtu, 04 Februari 2012

Karena Kamu (end)


Karena Kamu

            Siapa yang tidak mengenal Jihan dan Kanti. Dua gadis yang sejak pertama kali mengenal bangku sekolah sudah bersahabat. Sekarang ini mereka sama-sama kelas tiga SMU. Jadi kalau dihitung-hitung sudah dua belas tahun mereka saling mengenal. Bukan hanya mereka, tapi keluarga masing-masing pun sudah saling menganggap satu sama lain sebagai keluarga.
            Tapi yang namanya persahabatan pasti ada ujiannya, tak terkecuali mereka berdua. Bahkan persahabatan yang mereka anggap kuat ini pun ternyata cukup rapuh untuk dihempas oleh gelombang cobaan. Cobaan sederhana yang nyaris mampu mencerai-beraikan ikatan mereka. Tapi seperti segala sesuatu yang harus ada awalnya. Penyatuan ikatan yang nyaris putus itupun harus dimulai dengan kerelaan sebelah pihak yang mau memulai untuk menyambung ikatan itu kembali. Dan karena penerimaan yang lain akhirnya mampu mengeratkan ikatan itu kembali.
            Seperti segala hal yang sulit untuk kembali ke asal setelah rusak. Ikatan mereka pun seperti itu. Akhirnya dengan keputusan bersama, mereka ingin membuka pintu untuk orang-orang lain yang mungkin menjadi sahabat-sahabat baru mereka. Jadi, kalaupun sekarang mereka punya teman jalan dan gaul masing-masing, tetap saja satu sama lain akan menjadi pelabuhan terakhir untuk menghabiskan waktu bersama-sama, berdua, bercerita dan tertawa bersama.
***
            Di SMP Bakti Negeri Kota Palembang, siapa yang tidak mengenal Ganang Satio Pritjahyono. Sekalipun bukan kapten basket dan hanya berstatus sebagai anggota, namanya tidak asing lagi bahkan sampai ke sekolah-sekolah tetangga. Otaknya yang lumayan encer untuk ukuran anak laki-laki yang terkenal malas dan kesupelannya bergaul yang tidak pilih-pilih adalah modal dasarnya.
            Sama seperti anak SMP yang sedang puber-pubernya. Jihan dan Kanti pun sedang dalam masa pencarian. Kanti yang pernah sedikit mengenal Ganang karena dulu pernah bersekolah di TK yang sama hanya salut pada cowok itu tidak lebih. Sedangkan Jihan ikut-ikutan bergabung dalam geng anak-anak cewek yang semuanya menganggap Ganang sebagai gebetan. Namun sebagai sahabat yang selalu bersama, Kanti selalu terlihat berada diantara sekelompok cewek-cewek itu, apalagi kalau bukan menemani Jihan menonton pertandingan basket yang dijalani Ganang.

Kamis, 19 Januari 2012

Without You (Sepenggal Cerita.....)

..... Flo sedang mengobrol ringan bersama Acha, sembari menunggu waktu pulang yang tinggal 45 menit lagi. Sekretaris bos besar itu sedang asyik mendengarkan ceritanya tentang film serial yang habis ditontonnya semalam, tak lama telepon di meja kerjanya berbunyi nyaring. Flo meminta izin sebentar lantas menyambar gagang telepon.
" Selamat sore, dengan Flo ada yang bisa dibantu?" sapanya ramah.
" Sore," sahut suara diseberang. " Mbak Flo?"
" Iya dengan saya," kening Flo mengernyit. " Ada yang bisa dibantu pak?"
" Ini pak Bambang mbak. Satpam di pos samping. Di sini ada temen mbak Flo nunggu."
" Temen???" Sekali lagi kening Flo mengernyit lalu ucapnya," Disuruh naik aja pak ke tempat Flo."
" Sudah mbak. Tapi katanya kakinya masih sakit buat naik tangga. Jadi minta mbak Flo yang nemuin ke bawah."
" Sakit!!" Flo menerawang sebentar sembari memandang Acha yang juga tengah memandangnya dengan penasaran. Mengingat-ngingat temannya yang mana. Lantas sebuah nama dan bayangan seseorang terbersit dibenaknya. "Oh ya sudah pak. Ehmmm temen saya itu cewek apa cowok pak??" katanya sekadar memastikan.
" Cowok mbak. Cakep," tambah si bapak yang bikin Flo tersenyum geli. " bapak minta dia nunggu ya," ucap pak Bambang sebelum menutup telepon.
" Makasih ya pak," tutup Flo yang diiyakan oleh pak Bambang.
" Sapa?" tanya Acha setelah telepon diputus.
" Pak Bambang, satpam bawah. Katanya ada temanku nunggu dibawah. Tapi bingung siapa ya?"
" Kenapa gak naik?" Acha melontarkan pertanyaan yang sama dengannya.
" Katanya kakinya sakit. Gak bisa naik tangga. Ya sudah aku turun dulu ya Cha. Kalo kamu mau di sini gak apa-apa," Flo buru-buru keluar ruangan sebelum kelamaan ngobrol.
Sambil menuruni tangga benak Flo bertanya-tanya. Siapa orang ini. Cowok pula. Teman dekatnya yang sering ke kantor hanya Silva dan dia juga perempuan. Satu nama yang tadi melintas kembali melintas. Azka. Kenapa Azka? Karena hanya dia, orang yang Flo kenal yang sedang sakit.
Jantung Flo jadi deg-degan gak karuan begitu dia menaiki undakan tangga pos satpam di samping kantor. Dan benar dugaannya. Azka duduk di sana, di bangku marmer sedang memainkan ponselnya. Cowok itu spontan mendongak dan tersenyum begitu Flo tiba di atas. Flo berhenti melangkah diundakan terakhir saat Azka bangkit dan membalas dengan senyum tipis.

Rabu, 07 Desember 2011

Sebuah Doa (Sebuah cerita pendek kecil)

Dear God,

Akh Lei (Dibaca Ley) bingung, tidak tahu harus bercerita pada siapa. Sepertinya memang tidak ada yang bisa memahami kegelisahan gadis itu selain DiriMu Ya Rabb. Sang pemilik jiwa dan kehidupan ini.
Ya Rabb, bisiknya, untuk kali ini Lei sungguh tak berdaya. Dia bingung, tidak tahu harus bersyukur, bahagia, atau justru bersedih untuk perasaan ini. Ada debar ketakutan yang sangat yang tiba-tiba merayapi hatinya.
Iya Ya Rabb Lei jatuh cinta. Gadis itu mengaku kendati sesungguhnya Dia pasti telah tahu karena bukankah Dia Sang Maha Mengetahui?. Yah dia jatuh cinta, jatuh cinta pada makhluk ciptaanMu. Tapi Lei tidak tahu dan tidak mengerti dengan perasaan ini. Lei belum pernah bertemu dengannya. Seperti itulah yang diingatnya. Tapi perasaannya terasa penuh tiap kali mendengar selentingan namanya. Akh Ya Rabb apa ini hanya perasaan palsu? apa ini hanyalah kekaguman yang menggelitik sesaat? Plisss bantu dan bimbing Lei jika ini semua hanyalah ulah permainan Syaiton yang menggoda. Berikan terangMu Ya Rabb.

Duh Gusti untuk kali ini Lei benar-benar berserah diri, untuk hati ini, untuk rasa ini, untuk cinta ini, dan untuk semua harapan-harapan ini. Hanya bisa memanjatkan doa padaMu bantu Lei untuk bisa terus memperbaiki diri agar kelak bisa menjadi ibu, istri, kakak, adik, sahabat, dan menantu yang baik bagi Lauhul Mahfudz Lei kelak.
Akh ya Rabb Lei bukan orang yang sepenuhnya baik dengan sifat dan iman yang baik jadi perkenankan Lei Ya Rabb untuk bisa bertemu dengan Imam yang baik, ayah, sahabat, saudara, dan menantu yang baik.

Ya Rabb Engkau tahu siapa yang tersembunya dalam hati Lei, izinkan Lei bertemu dengan pria ini. Engkau pasti tahu siapa dia dan di mana dia. Dengan segenap hati dan kepasrahan Lei hanya bisa tersungkur dalam doa panjang dan sujud panjang semoga dialah orangnya.....

Minggu, 27 November 2011

Sepenggal Cerita


Flo memelankan laju sepeda motornya sembari ikut melongok pada kerumunan yang memacetkan jalanan sore itu. Saat matanya melihat dua sepeda motor jatuh dengan arah yang berlawanan, spontan dia menepikan motornya sendiri dan ikutan nimbrung mencari tahu.
                “Ada kecelakaan pak??” tanyanya sekadar memastikan pada bapak-bapak yang ada disana.
                “Iya mbak,” jawab bapak itu singkat.
                Flo merangsek kedepan, ada naluri yang mendorongnya untuk melihat lebih jelas. Dilihatnya dua orang pria terjatuh, masih utuh, tak ada darah yang mengalir atau sesuatu yang menjijikkan yang sekiranya akan dia lihat. Tapi keduanya sepertinya tidk dalam kondisi yang baik. Pria yang berkemeja putih itu berusaha bangkit dan sepertinya berusaha hendak melepas helm yang masih menutupi kepalanya. Flo menengok kiri kanan dengan heran, kenapa tidak ada yang bergerak untuk menolong. Pria yang satunya, yang berjaket kulit hitam masih tertelungkup, namun kelihatan masih bernafas walaupun dengan pelan.
                “Kok gak dibantuin pak??” tanyanya asal entah pada siapa.
                “Nunggu polisi mbak, takut,” seorang bapak yang berdiri disebelahnya menjawab.
                Ketika pria berkemeja itu mampu membuka helm, barulah Flo melihat ada sedikit darah yang merembes dipelipisnya. Dan mulutnya langsung menganga begitu menyadari siapa pria itu. Spontan suaranya keluar, “Pak tolongin pak, dia temen saya,” ucap Flo keras dengan kecemasan yang tidak bisa ditutupi. Dia bergerak mendekat dan spontan memapah cowok itu dengan dibantu seorang bapak. Menepikan cowok itu kepinggir trotoar. Nafas cowok itu tersengal dan dengan lemas dia bergayut pada bahu Flo. Flo merogoh tas ranselnya mencari handphone. Dengan gemetar, dengan tangan sebelahnya yang bebas Flo menelepon nomor rumah sakit yang pertama dilihatnya.
                “Mbak haloo,” ucapnya keras dan cemas,”tolong ambulans ada kecelakaan di Sudirman Km 3, cepet ya. Korbannya masih keburu ditolongin,” Flo menutup teleponnya dan memeriksa cowok itu selain pelipisnya apalagi yang terluka.
                Lima menit kemudian raungan sirine ambulans memecah suasana sore tepat bersamaan dengan kedatangan polisi. Cowok berkemeja dan berjaket kulit itu dibawa ke ambulans. Flo dimintai keterangan seadanya dan diminta ikut. Setelah terlebih dahulu masuk ke ruang ATM yang ada disekitar sana Flo melajukan motornya menuju rumah sakit.
                Flo mengenal pria berkemeja putih itu meskipun bukan perkenalan yang baik. Karena dalam dua kali pertemuan mereka pria itu telah mempermalukannya, ataulah demikian menurut pikiran Flo. Namun perasaannya sebagai manusia mengalahkan sakit hatinya dan membuatnya spontan ingin menolong pria itu.
                Sesampai di rumah sakit, Flo langsung mencari polisi dan tak sulit menemukannya. Setelah dimintai keterangan untuk kedua kalinya Flo dipersilahkan untuk mengurus hal-hal yang bersifat administrasi dan kondisi temannya.