Minggu, 20 Maret 2011

A Wish

Kenapa saya kasih picture langit?? karena menurut saya harapan itu serupa sepertinya, sesuatu yang indah namun begitu jauh dan mustahil untuk dijangkau. Seperti sebuah ungkapan anonim yang saya pernah baca dan saya begitu cinta pada ungkapan itu yang bilang bahwa Harapan hanya mau menjadi bagian hidup kita apabila kita memperjuangkannya menjadi sebuah kenyataan, coba gimana saya gak terasa tersepak membacanya. Seringkali dan dalam banyak waktu saya berharap ini dan itu, namun begitu berpikir bahwa sepertinya harapan itu terlalu tinggi ya sudah semuanya tertinggal begitu saja.
Sabtu pagi kemaren kita pada girl talk di kamar kos ku, dan tanpa sengaja ngobrol tentang teman mbak Fikka (salah satu teman kosku) yang berhasil pergi ke Jerman dengan modal nekat (tentu saja dengan beberapa modal tambahan seperti bisa bahasa inggris, dapat bea siswa dan mencari sponsor). Tapi mendengar ceritanya yang menurutnya temannya itu sebenarnya bukan satu diantara yang menonjol namun berhasil demi Tuhan aku terpacu kembali. Mendengar ceritanya kali ini jujur aku dan kita bertiga tentunya menyadari bahwa gak ada sesuatu itu yang kebetulan, semuanya diperjuangkan dan membutuhkan usaha dan konsistensi melakukannya. Untuk yang kesekian kalinya aku kembali bertanya pada diriku??? what is actually of my wish?? puaskah aku seperti ini?? apakah aku mau mencoba memulainya?? apakah kali ini aku akan bersungguh-sungguh kendati akan ada rasa sakit yang akan kuterima, kekecewaan dan kesediahan??
Kubuka kertas kecil dari dalam dompetku yang berisi tulisan acak kadutku, dan aku mulai berbisik, aku ingin dan akan memperjuangkannya. Akan ku mulai dari hal yang sederhana, memperRajin ibadahku, karena aku yakin ketika aku bersamaNya aku pasti lebih kuat dan bisa menerima apapun yang akan terjadi nanti ^^
Yap Seperti ucapan dalam bahasa Jepang GAMBARU yang artinya semangat dalam semangat yang lebih untuk bisa mencapai harapan dan tujuan kita. Semua orang berhak atas mimpinya apapun dan bagaimanapun mustahilnya harapan itu ^^.

Rabu, 16 Maret 2011

Bukannya Tak Suka

Dua hari ini saya seperti merdeka, berhubung bos dan rekan kerja sedang tugas luar kota semua jadilah saya sang pemilik ruangan. Kebetulan teman kantor di ruangan sebelah baru pulang dari liburan di Eropa, wah saya jadi nangkring di ruangannya mantengin hasil jepretannya dan dipandu di mana saja foto itu dibuat dan cerita-cerita lokasinya. Sumpah saya mupeng abisss bissss bisss, bukan mupeng dan iri karena dia bisa jalan-jalan ke Eropa, karena kalo itu saya yakin bisa yang penting irit dan ngumpulin duit trus cao deh ke eropa beberapa hari buat jalan-jalan, yang saya mupeng dan iri setengah mampus betapa kotanya sangat cantik dan rapi. Saya iri pada mereka yang bisa tinggal dan menetap di kota sebaik itu. Saya tak habis pikir padahal kita sama-sama manusia tapi kenapa orang-orang sana (Baca Bule) bisa begitu menghargai dan sangat menjaga negara mereka, betapa mereka tunduk pada aturan yang dibuat dan saling menjaga lingkungan. Okelah saya masih mendapati satu dua buah coretan di dinding yang mungkin tak sengaja terfoto, kalau mereka bisa sedikit merusak tapi toh pada kenyataannya mereka juga menjaga dan menghormati kota dan negara mereka. Iri sekali dan saya sempat bermimpi bisa tinggal di negeri yang nyaman, saling menjaga dan mentaati peraturan, bisa berjalan kaki dengan nyaman di jalan tanpa diteriaki atau takut ke serempet kendaraan. 

Jadi jangan salahkan jika rasa nasionalis saya kurang, lah gimana gak kurang kalo ketika diri ingin mempraktekkan cara hidup yang lebih saling menjaga saya malah dianggap aneh dan ditertawakan. Saya pernah tanpa sengaja menghancurkan sebuah tempat styrofoam dengan maksud agar tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Salah satu teman kerja nyeletuk eh iya juga ya, saya lantas menimpali dengan ucapan " minimal ya kita lakukan dari kita ", lantas teman lain nyeletuk " Lah yang ngelakuin cuma satu yang lain pada gak ngancurin tuh tempat ya sama saja kan, gak guna ". Jujur saya agak jengkel mendengarnya dan dengan cueknya saya menimpali, " minimal kita lakuin, kalo kita berpikiran kayak gitu yah hitung aja akibatnya " dan saya berlalu dari obrolan. Jengah. Coba bagaimana saya tidak iri??? Bukannya tak suka pada negeri ini toh saya bisa apa selain menerima, tapi jika boleh memilih hihihihi saya mungkin dengan senang hati akan memilih pilihan yang lain ^^v

Senin, 14 Maret 2011

Ragu

Seminggu ini hati saya ragu, bingung, juga takut. Saya tidak tahu yang dinamakan ikhlas itu seperti apa, apakah perasaan saya ini sudah menggambarkan keikhlasan,,akhhh cuma DIA yang tahu. Jujur saya takut, takut pada kenyataan bahwa nanti saya tidak lulus mengikuti tes yang akan saya ikuti (entah kapan), bayang-bayang perasaan malu dan dicemooh terus menghantui saya. Namun terakhir ini saya meraba-raba, merasakan hati dan pikiran saya dengan semampu saya dan berujung pada usaha untuk bisa mengikhlaskan dan mengahadapi kenyataan yang nanti akan datang. Mungkin pahit sekali memang tapi bukankah hidup tidak harus berakhir disana. Namun yang saya tahu sebelumnya saya akan berusaha tanpa harus benar-benar melihat apa yang bakal terjadi nanti. Menutup mata dan berdoa dengan sekuat tenaga. Sampai saat menulis ini pun hati saya takut setengah mati, tapi apalah artinya toh semuanya saya serahkan padaNya. Mungkin tidak semuanya memang seindah harapan tapi saya hanya bisa memohon dengan sangat, peluk saya selalu terutama dalam keadaan Pedih agar saya tak lari menjauh dan kehilangan pegangan.

Senin, 21 Februari 2011

Andai saya

Kalo berpikir itu mengenai pilihan yang baik beuhh saya akan berterima kasih sekali hahahaha. Ini tentang pilihan saya dengan kata seandainya bisa. Yup seandainya saya bisa memilih, seandainya hati saya memiliki logika, dan seandaianya takdir ini bukan terjatuh pada saya. Kenapa saya bilang takdir karena ini kejadian yang telah lalu dan sudah lewat untuk diperbaiki.
Saya pernah membaca sebuah teenlit dan jujur saya sukaaaaaaa sekali dengan satu kalimat yang ada didalamnya bahkan saya sampai hafal hahahaha gak penting yah. Kata-katanya begini, kata orang cinta itu bikin bahagia, bikin hati jadi berbunga-bunga, bikin hari-hari menjadi penuh tawa, tapi bagi saya jatuh cinta itu bikin sakit kepala. Yup saya setuju dengan kalimat itu karena memang itulah yang ada pada saya, disaat orang bahagia karena jatuh cinta, kok saya malah merasa takut dan pusing sendiri. Why???? karena cinta saya memang belum pernah terbalas, saya pakai kata belum karena saya masih menyimpan harapan bahwa kelak saya menemukan orang yang tepat untuk saya jatuhi cinta, kenapa orang yang tepat yah karena dia juga menjatuhi saya cinta hehehe.

Kalau pikiran itu sedang muncul, saya berharap sekali waktu bisa diputar. Tapi sampai mau nangis darah pun mana pernah waktu kembali, jadi saya hanya bisa menerimanya. Mau tak mau dengan lapang hati tentunya.
Saya sering berandai-andai tanpa ujung, andai saya lebih cantik sedikit, andai saya lebih pintar sedikit, andai saya sedikit putih, andai saya punya keahlian lain, dan seribu andai-andai yang lain mungkin saya bisa mendapatkannya. Tapi kembali terpikir andai saya memilki semua itu apakah saya masih disini sekarang, apakah saya memiliki semua yang saya miliki saat ini?? lagi-lagi tanpa sadar terpikir Tuhan selalu punya jalannya untuk setiap hambanya.
Saya ingin memilki cinta, tapi bukan cinta yang hanya dengan sekejap saja hilang, bukan cinta yang akan berubah hanya karena ada perubahan, bukan cinta yang saling menenggelamkan, dan bukan cinta yang ada hanya karena saya sebuah keterharusan.
Dan sekarang dengan serela hati saya senadainya saya bisa memilih saya akan tetap memilih saat ini karena patahnya hati saya membuat saya berpikir tentang orang seperti apa yang akan saya jatuhi cinta.